Apakah kita sudah menjadi orang baik?

Oleh: I Wayan Wisanta

paritranaya sadhunam
vinasaya ca duskrtam
dharma-samsthapanarthaya
sambhavami yuge-yuge
Bhg. 4.8

Untuk melindungi orang-orang baik dan untuk memusnahkan orang-orang jahat, Aku lahir kedunia dari masa ke masa untuk menegakkan dharma.

Tuhan begitu baik dan maha berkarunia kepada semua ciptaanNya yang baik.
Ya…..sekali lagi kepada ciptanNya yang baik. Dengan demikian maka pasti tidak akan ada kesulitan yang berarti bagi orang-orang yang baik dalam menjalankan aktifitas kehidupannya dimanapun berada bahkan jika ia berada dalam lingkungan yang tidak baik sekalipun karena Tuhan melindunginya.
Justru kitalah yang kadang-kadang masih meragukan sabda-sabda Tuhan yang terdapat dalam kesusastraan veda apalagi bagi yang belum pernah membaca dan belum mengerti pastilah hidupnya itu penuh dengan keragu-raguan.
Dimana lagi kita bisa mendapatkan janji Tuhan setegas dan segamblang itu selain dalam Srimad Bhagavad Gita seperti sloka diatas.

Yang dibutuhkan disini hanyalah bagaimana kita mampu menumbuh kembangkan keyakinan yang mantap pada sang diri, tetapi ini tentu bukanlah hal yang mudah dan sederhana, perlu proses panjang tentunya.
Pada satu kesempatan dialog (dharma tula) dalam rangka pujawali pura bhuana santi banjar Way Halim beberapa waktu yang lalu ada teman menyampaikan kekhawatiran atau katakanlah semacam ketakutan dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan bahaya atau kejahatan sehingga rasa curiga terhadap orang lain selalu muncul dalam pikiran kita karena di zaman kali kebaikan kalah cepat dengan kejahatan.
Saya kira itu satu hal yang wajar dan kita dapat memahaminya.
Hal ini ditanggapi oleh Mangku Danu selaku narasumber bahwa betapa pentingnya doa sebelum melaksanakan setiap aktifitas dan penyerahan diri kepada Tuhan itu sebenarnya yang jauh lebih penting.
Sebab jika kita sudah mampu menyerahkan diri kepada Tuhan maka rasa takut itu akan sirna dengan sendirinya seiring dengan proses penyerahan diri itu.
Sesuai sloka diatas Tuhan melindungi orang-orang baik dan menghancurkan orang-orang jahat, lalu pertanyaannya adalah apakah kita sudah merasa menjadi orang yang baik?, kenapa pertanyaanya ditujukan kepada diri kita? ya kita tidak perlu menilai orang lain terlebih dahulu.
Lalu apa criteria baik itu?,  apakah karena dia tidak mempunyai musuh lalu sudah menjadi orang baik?,  ya mungkin bisa juga demikian, lalu bagaimana dengan Arjuna apakah beliau tidak termasuk manusia yang baik hanya karena beliau mempunyai musuh?, jawabnya jelas tidak karena musuh Arjuna adalah kejahatan atau kekuatan adharma itu sendiri dan bukan orangnya.
Dan Arjunapun menghancurkan musuhnya itu atas perintah guru kerohanianya yang sejati yang tiada lain adalah Kepribadian Tuhan itu sendiri Krsna,  jadi Arjuna hanyalah sebuah instrument saja.
Kemudian apakah orang baik itu adalah orang yang sering sembahyang?,  jawabanya barangkali bisa juga ya, lalu bagaimana dengan orang yang senang sembahyang disatu sisi dan disisi yang lain juga senang membunuh orang lain diluar kelompoknya dengan dalih agama bahkan dengan menggunakan bom?.
Selanjutnya apakah disebut orang baik kalau ia sering memberikan ceramah-ceramah keagamaan bahkan ditempat-tempat yang suci? jawabanya barangkali ia, tetapi bagaimana kalau isi ceramahnya mengecilkan yang lain atau merasa diri dan kelompoknya sendiri yang paling baik atau paling benar!
Atau apakah orang yang baik itu adalah orang-orang yang suka memberikan banyak sumbangan? Jawabanya tentu ya, lalu bagaimana kalau setiap memberikan sumbangan mengundang media masa agar semuanya diberitakan secara luas?

Nah didalam kesusastraan veda kita bisa menemukan orang-orang yang baik yang dilindungi Tuhan seperti Hanuman,  beliau adalah pengabdi Sri Rama dan Ibu Shita yang paling setia bahkan beliau menyerahkan dirinya secara total kepada Sri Rama.
Ketika Hanuman dalam menjalankan tugasnya sebagai duta Sri Rama dalam upaya membebaskan Ibu Sita yang diculik Rahwana di taman asoka wana kerajaan Alengka diserang oleh pasukan Rahwana bahkan dibakar hidup-hidup,  sekalipun demikian beliau selamat tanpa cedera sedikitpun. Ini semata-mata karena beliau seorang abdi utama Sri Wisnu dalam wujud Sri Rama dan menyerahkan diri sepenuhnya di kaki padma Beliau.
Jayalah Hanuman,
Jayalah Sri Rama……..3 x

Demikian juga dengan Prahlada putra maharaja Hiranyakasipu, beliau adalah penyembah murni Sri Wisnu, ketika beliau hendak dibunuh oleh ayahnya sendiri karena aktifitas rohaninya sebagai seorang penyembah Sri Wisnu, maka Sri Wisnu pun turun melindungi Prahlada dalam wujud manusia berbadan setengah singa dan stengah manusia yaitu Narasimhadeva untuk menghancurkan kejahatan Hiranyakasipu.
Hiranyakasipu terbunuh dan Prahlada terselamatkan.
Jaya Prahlada maharad,
Jaya Narasimhadeva……..3 x

Kalau kita cermati kedua kisah diatas kemudian kita hubungkan dengan criteria sebagai orang-orang yang baik yang dimaksudkan dalam sloka diatas maka Hanuman dan Prahlada adalah yang dimaksudkan dalam sloka itu.
Orang yang baik pada tingkatan yang tertinggi adalah orang-orang yang mampu menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa (Atmanivedanam).
Mari kita berupaya terus-menerus menekuni bhakti kepada Tuhan menuju proses penyerahan diri sepenuhnya kepadaNya agar mampu menjadi orang-orang baik melalui aktifitas perbanyak sankirtanam maha yagya yaitu aktifitas menggetarkan kesucian nama Tuhan secara terus-menerus karena hanya itulah yang direkomendasi Tuhan dalam menjalani proses bhakti pada Tuhan di kaliyuga ini.
Karena Tuhan maha baik, maha pemurah, maha kasih, maha berkarunia dan pada zaman kali (kaliyuga) ini sesungguhnya Beliau turun ke dunia ini dalam bentuk nama SuciNya, maka getarkanlah setiap saat penuh penyerahan diri agar kita menjadi orang baik dan diselamatkan.
Kita ulangi sekali lagi pertanyaan buat kita semua; apakah kita sudah menjadi orang baik? atau maukah kita menjadi orang baik?

Salam damai,

Om Namo Bhagavate Vsudevaya

Leave a Comment

We would be glad to get your feedback. Take a moment to comment and tell us what you think.

sixteen + 13 =