Belum Semua Memenuhi Komitmen

Program BDDN yang disosialisasikan di Pesamuhan Agung, bulan Desember 2007, tampaknya sudah mulai membuahkan hasil walaupun belum sesuai dengan komitmen awal. “Dari seluruh komitmen tertulis untuk berdana punia, baru setengahnya yang membayar”. Demikian dikatakan Ketua Badan Dharma Dana Nasional, Wayan Alit Antara, di sela-sela rapat Panitia Utsawa Dharma Gita Nasional X, Sabtu 16 Pebruari 2008 di Kantor Ditjen Bimas Hindu, Jakarta.

 

Mungkin saja mereka saat membuat komitmen tertulis hanya untuk memancing agar orang lain semangat. Sehingga kemudian lupa untuk merealisasikannya. Dan berdana punia kan harus ikhlas, bukan karena komitmen. Siapapun tidak bisa memaksakan orang lain untuk berdana punia. “Malahan pengurus Parisada Pusat, baru beberapa orang saja yang membayar”, sambungnya lagi.

 

Ia pun bercerita ketika diundang Ketua PHDI Jawa Tengah ke Semarang untuk memaparkan programnya. Mungkin Ketua PHDI ini tertarik dengan program itu, saat menghadiri Pesamuhan Agung di Bali. Untuk lebih jelasnya, kemudian Ketua BDDN diundang untuk presentasi  langsung dihadapan umat, yang di luar dugaan umat yang hadir banyak sekali. Dan yang luar biasa, umat yang hadir  ternyata sangat anthusias untuk ikut serta mendukung program tersebut.

 

Menurut Alit Antara, dalam pertemuan ini, yang hadir justru lebih banyak umat  Hindu dari kalangan ekonomi lemah,  yang malahan sebenarnya perlu dibantu. Tetapi karena BDDN adalah program lembaga tertinggi umat Hindu, yaitu Parisada Pusat, maka sebagai umat Hindu,  mereka merasa wajib untuk mendukung Parisada.  Mereka menyadari bahwa tanpa  dukungan umatnya, Parisada tidak akan mampu berbuat banyak. Dan inilah saatnya mereka untuk berbuat,  agar visi dan misi Parisada tercapai.  Mereka juga menyadari bahwa kontribusi mereka dalam rupiah sangat kecil, karena penghasilannya kecil. Mereka ingin menunjukkan bahwa Parisada juga miliknya, dan pantas untuk dibesarkan, demi perkembangan umat Hindu di Nusantara. Mereka percaya bahwa apabila program BDDN ini berhasil, maka pembinaan umat akan berhasil· dan berkesinambungan.

 

Menghadapi kenyataan ini,  Alit Antara sempat terperangah, tidak pernah dibayangkannya bahwa BDDN ternyata lebih menyentuh umat di daerah.  Ternyata umat Hindu di daerah-daerah lebih peduli terhadap keberadaan Parisada Pusat, yang selama ini seolah tidak mampu banyak berbuat. Bagi warga Hindu di daerah-daerah, khususnya di luar Bali, Parisada sangat dihormati. Ini bisa dilihat, bahwa di Jawa, bahkan Parisada Desa saja sangat dipatuhi umatnya, karena mereka merasa terayomi. Parisada menjadi penting bagi umat Hindu, khususnya non Bali karena mereka merasa bangga, memiliki majelis, seperti juga umat beragama lainnya.

 

“Ternyata kelompok yang sulit memenuhi komitmen untuk membayar adalah kelompok ekonomi menengah ke atas. Bahkan seorang pejabat tinggi Hindu yang berjanji membayar pertama, hingga saat ini belum membayar”, ujar Alit Antara tersenyum. Memang berjanji itu mudah, tetapi ketika melihat jumlah rupiahnya banyak, apalagi kalau dibelikan beras, dapat berkarung-karung; timbullah rasa sayang untuk didana puniakan. lni manusiawi sekali kok.

 

Kelompok umat yang ekonominya pas-pasan dan tanpa komitmen, malah lebih ikhlas berpunia. Karena mereka ini berpikirnya sederhana, bahkan istilah komitmen saja tidak mengerti, tetapi mereka tahu kewajiban sebagai umat Hindu. Pilihannya, tidak paham dengan istilah komitmen, tetapi tahu kewajiban atau mengerti komitmen tetapi enggan merealisasikannya. Umat yang sederhana sadar bahwa mereka bisa hidup tenang, damai walaupun tidak kaya, semua karena ajaran Hindu. Mereka ingin  lembaga tertinggi yang mereka hormati bisa melaksanakan tugas-tugasnya, seperti halnya lembaga-Iembaga agama lain.

 

Memang hal-hal seperti ini sulit diprediksi, mungkin karena tidak ada sekolahannya. Yang tidak membuat komitmen, malahan semangat, yang  diharapkan mudah ternyata sulit.  Padahal kelompok pas-pas ini sesungguhnya kelompok elit alias ekonomi sulit. Tetap menghadapi situasi seperti ini, Alit Antara masih memiliki contingency plan, tidak habis akal, hanya sedikit shock. Masih ada sumber dana lainnya, walaupun bukan dari dana punia umat. Hanya saja, menjadi sesuatu yang lucu, kok lembaga tertinggi umat tidak didanai oleh umatnya sendiri. BDDN harus jalan terus, karena ini adalah program mulia yang sangat menentukan future Hindu di Nusantara.

 

Dan yang paling memprihatinkan karena untuk memenuhi komitmen saja ternyata kita belum bisa, apalagi untuk berurusan dengan Tuhan. Apakah ini terkait dengan jaman  Kali? Kasihan sekali jaman Kali yang selalu dijadikan kambing hitam.

Leave a Comment

We would be glad to get your feedback. Take a moment to comment and tell us what you think.

twelve + 4 =