Dharma Artha (Ekonomi) Hindu

Kata “Ekonomi” adalah sebuah kata yang mustahil dipisahkan dengan barisan kata kesejahteraan dan kemakmuran. Dalam Hindu, ekonomi itu disebut dengan Artha yang tertuang dalan Kitab Sarasamuscaya. Kembali pada kata ekonomi sendiri, sering kita mendengar prinsip bahwa dengan pengeluaran modal yang sekecil-kecilnya untuk mendapatkan penghasilan sebesar-besarnyanya. Prinsip yang demikian dapat menimbulkan kebutuhan(keinginan) manusia itu tidak terbatas. Akibatnya hawa nafsu tanpa moralitas, maka apa yang terjadi adalah kelicikan, dan lobha (keserakahan adalah keinginan yang tidak terbatas. kalau sampai seperti ini maka tidak dibenarkan dalan ajaran agama.

Lobha (keserakahan) sendiri adalah bagian dari Sad Ripu yang memiliki arti suatu sifat yang selalu menginginkan lebih melebihi kapasitas yang dimilikinya. Untuk mendapatkan kenikmatan dunia dengan merasa selalu kekurangan, walaupun ia sudah mendapatnya secara cukup. Seperti misal lobha dalam mendapatkan harta seperti disebutkan dalam Sarasamuscaya 267:
“Jatasya hi kule mukhye paravittesu grhdyatah lobhasca prajnamahanti prajna hanta hasa sriyam.
Yadyapin kulaja ikang wwang, yan engine ring pradryabaharana, hilang kaprajnan ika dening kalobhanya, hilangning kaprajnanya, ya ta humilangken srinya, halep nya salwirning wibhawanya”
Artinya: Biar pun orang berketurunan mulia, jika berkeinginan merampas kepunyaan orang lain; maka hilanglah kearifannya karena kelobhaanya; apabila telah hilang kearifannya itu itulah yang menghilangkan kemuliaannya dan seluruh kemegahannya.

Jadi hanya dengan berkeinginan saja sudah menyebabkan Ia mendapatkan hasil karma yang buruk. Selanjutnya dalam Sarasamuscaya 266 dijelaskan bahwa:
“Hana yartha ulihlning parikleca, ulihning anyanya kuneng, Athawa kasembahaning catru kuneng, hetunya ikang artha mangkana kramanya, tan kenginakena ika”
Artinya: Adalah uang yang diperoleh dengan jalan jahat, uang yang diperoleh dengan jalan melanggar hukum atau pun uang persembahan musuh, uang yang demikian halnya jangan hendaknya diinginkan.

Dengan demikian usaha atau kerja yang dilakukan oleh seorang manusia hendaknya dilandasi dengan Dharma (jalan kebenaran). Bekerja yang baik sesuai dengan aturan, tidak menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan keuntungan, tidak korupsi dan lain-lain akan membawa pada kesuksesan jasmaniah dan rohaniah. Semoga Tuhan memberikan jalan kepada umatnya untuk dapat menjalankan roda ekonomi dengan baik sehingga tercapai kesejahteraan hidup (shanti) dan kebahagiaan akhirat (ananda).

Leave a Comment

We would be glad to get your feedback. Take a moment to comment and tell us what you think.

fourteen − ten =