Dharma Dana Di tengah Keterbelakangan Umat Hindu

Oleh : Komang Adi

Dalam Mahasabha IX   PHDI   yang berlangsung di Taman Mini Indonesia  Indah, Jakarta, salah satu keputusan penting yang   dilahirkan   adalah mengenai  Dharma Dana Nasional dengan ketetapan nomor: IV/TAP/M.Sabha IX/2006.  Dharma  Dana Nasional diterbitkan dengan tujuan untuk membangun sistem pendanaan yang akan mendukung program kegiatan pembinaan umat Hindu guna meningkatkan kualitas SDM Hindu di seluruh Indonesia.

Sebelumnya, dalam Pesamuan Agung di  Mataram,   telah diterbitkan Bhisama Dana Punya oleh Sabha Pandita PHDI. Dikeluarkannya Bhisama Dana Punya dan selanjutnya di susul / dipertegas   oleh Ketetapan Dharma Dana Nasional dalam Mahasabha IX makin memperkuat akan pent ingnya di tumbuhkan kesadaran mengenai masalah pengelolaan dana di kalangan umat Hindu. Bhisama dan Ke p utusan Mahasabha  yang diterbitkan beriringan merupakan cerminan dari realitas bahwa tanpa adanya dukungan sumber pendanaan, maka program pembinaan dan pelayanan umat Hindu tidak akan dapat dijalankan secara optimal.

Bagaimana dengan kondisi sumber  pendanaan  bagi pembinaan umat beragama lainnya di Indonesia?. Ternyata saudara-saudara kita dari umat Islam dan Kristen jauh sudah lebih maju.  Mereka telah memiliki sumber pendanaan untuk  p embinaan   dan pelayanan umat yang mapan.

Umat Islam telah memiliki Badan Amil Zakat Nasional. Bertugas mengumpulkan dana zakat (sumbangan) dari umat Muslim. Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dibentuk berdasarkan   Keputusan Presiden No. 8 tahun 2001, tanggal 17 Januari 2001. Umat Kristen juga memiliki sistem managemen pendanaan yang sudah mapan. Mereka memiliki sistem perpuluhan yang menganjurkan umatnya untuk mendonasikan minimal sepersepuluh dari  penghasilan yang mereka  dapatkan .

Sumbangan ditujukan untuk kepentingan pelayanan umat yang dikelola oleh gereja. Wujud dari suksesnya sistem pendanaan ini terlihat nyata dalam aksi-aksi pelayanan di masyarakat. Berbagai musibah yang terjadi di Indonesia sejak tahun 2006 menunjukkan, organisasi nasional maupun internasional yang mapan dalam pendanaan, bisa mengambil peran sosial yang lebih optimal.

Lalu bagaimanakah kontribusi organisasi Hindu dalam hal ini ?. Kita   harus   akui   kalau  umat Hindu masih bersifat reaktif   dalam menyikapi permasalahan-permasalahan sosial  seperti  di  atas.  Kita masih perlu mengirimkan surat edaran untuk pengumpulan dana ke para donatur umat Hindu  untuk   meminta sumbangan. Kita belum bisa secara  taktis menurunkan satgas  penanggulangan bencana saat gempa di Aceh, Nias, dan Bengkulu. Bahkan untuk musibah banj ir dan angin ribut yang terjadi di Kusamba, Bali kita sebagai umat beragama Hindu tidak cukup  cepat  member ikan uluran tangannya.

Oke lah kalau dikatakan bahwa bencana adalah sifatnya sporadis, lalu bagaimana dengan program  rut in pelayanan keumatan? Bagaimanakah dengan kesejahteraan dan pendidikan bagi para pandita dan pinandita? Bagaimana pula dengan tingkat kesehatan dari anak-anak Hindu? Apakah kita sudah memberikan kesempatan pendidikan murah syukur-syukur bisa gratis bagi generasi muda Hindu?

Seorang rekan muda Hindu pernah menceritakan  kebimbangan hatinya untuk melanjutkan  pendidikan master ke Norwegia. Bukan karena permasalahan dana yang membuat hatinya ragu, terlebih karena dia akan mendapatkan beasiswa  penuh selama menempuh pendidikan di sana.

Yang mengganjal dihatinya adalah sumber pemberi beasiswa yang jelas-jelas dari yayasan bernafaskan kental keagamaan, dan kebetulan non Hindu. Di satu sisi ada perasaan ragu bahwa akan ada ikatan moral dengan sumber pemberi beasiswa, di sisi lain kesempatan yang ada sangat sayang untuk di tinggalkan.  Seandainya sumber  beasiswa   berasal dari organisasi bernafaskan Hindu, tentunya tidak akan ada keraguan bagi rekan muda kita untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi ke negeri seberang.

Belum lagi permasalahan kesejahteraan dan kesehatan yang melanda umat Hindu, ternyata masih sangat banyak saudara-saudara kita yang hidupnya berada di bawah batas kemiskinan. Program Wirasa di  Bali  TV  seakan menyadarkan ki ta bahwa ada banyak saudara kita yang bergelut dengan hidup yang

sangat  jauh dari  sejahtera, mereka tidak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang pantas apalagi pendidikan bagi anggota keluarga yang akan bisa mengubah nasib hidup mereka ke depannya.

Sudah bukan rahasia umum juga kalau kita mendapati di  masyarakat bahwa para pandita dan pinandita Hindu menjadikan pelayanan mereka kepada umat juga sekaligus sebagai sumber hidup mereka. Belum ada saat ini lembaga umat  Hindu  yang peduli terhadap kesejahteraan dan kesehatan mereka,  apalagi terhadap pendidikan anak-anak para pandita dan pinandita.

Karena kondisi yang memaksa akhirnya mereka menjadikan pelayanan keumatan sebagai mata pencaharian, keikhlasan dalam pelayanan makin hari kian tergerus akan kerasnya hidup.  Maka bukan  salah beliau-beliau jika bisnis sesajen menjadi marak di kalangan para pandita dan pinandita. Menyikapi   real ita yang ada,   langkah PHDI dalam memberikan penekanan bagi pentingnya perhatian terhadap sistem pendanaan umat dalam bentuk Bhi sama Dharma Dana sangat tepat. Tinggal ke depannya,  bagaimana bisa menjalankan Badan Dharma Dana Nasional yang merupakan amanat umat Hindu seluruh Indonesia  ini  dengan baik melalui tata kelola dan tata laksana yang profesional.

2 Comments

  1. Nata
    1 November 2013 at 6:39 AM

    Terus berkarya BDDN untuk memajukan umat Hindu

    Reply »
  2. 29 May 2015 at 10:42 PM

    This is very interesting, You are a very skilled blogger. I've joined your feed and look forward to seeking more of your wonderful post. Also, I have shared your website in my social networks!

    Reply »

Leave a Comment

We would be glad to get your feedback. Take a moment to comment and tell us what you think.

15 − 3 =