Apa dasar hukum Dharma Dana?
Dharma Dana ini berdasarkan Bhisama Sabha Pandita yang dikeluarkan pada saat Pesamuhan Agung di Mataram tahun 2002 Nomor: 01/Bhisama/Sabha Pandita/Parisada Pusat/X/2002 tentang Dana Punya.
Selanjutnya Bhisama itu diperkuat dengan  ketetapan Mahasabha IX PHDI Nomor: IV/TAP/M.Sabha IX/ 2006 tentang Dharma Dana Nasional.
 
Apa ada sloka Weda yang menegaskan tentang Dharma Dana?
Hendaknya kekayaan dan keberuntungan dapat didermakan kepada orang-orang miskin dan benar-benar memerlukan. Hendaknya mereka dapat memandang jalan kehidupan yang benar. Roda kereta pembawa kekayaan tidak pernah berhenti. Kekayaan berlimpah satu hari dan bertambah terus pada hari-hari selanjutnya. Hendaknya setiap orang sadar untuk menolong orang setiap hari. (Rgveda X.117.5).
Berdermalah untuk tujuan yang baik dan jadikanlah kekayaanmu bermanfaat. Kekayaan yang didermakan untuk tujuan luhur tidak pernah hilang. Tuhan Yang Maha Esa memberikan jauh lebih banyak kepada yang mendermakan kekayaan untuk kebaikan bersama. (Atharvaveda III.15.6).
Seseorang jangan pernah berhenti melaksanakan Yajna, Tapa, dan Dana, karena ketiganya akan menyucikan seseorang. Oleh karena itu fungsi dari dana punya yang utama adalah untuk menyucikan diri, sebab dengan kesucian diri pahala dari dana punya akan dapat diwujudkannya. (Bhagavadgita XVIII.5).
 
Umat Hindu sudah banyak membayar kewajiban-kewajiban seperti di Banjar, suka duka, lalu mengapa harus membayar Dharma Dana lagi?
Dalam Sarasamuscaya 261 – 262 ditegaskan bahwa Dan caranya berusaha memperoleh sesuatu, hendaklah berdasarkan dharma, dana yang diperoleh karena usaha, hendaklah dibagi tiga, sebagai sarana mencapai yang tiga itu, perhatikanlah itu baik-baik. Inilah hakekatnya maka dibagi tiga yang satu bagian sarana mencapai dharma, bagian yang kedua sarana untuk memenuhi kama, bagian yang ketiga sarana melakukan kegiatan usaha dalam bidang artha, itu agar berkembang kembali, demikian hakekatnya maka dibagi tiga, oleh orang yang ingin peroleh kebahagian.
 
Dari mana angka 2,5% itu?
Dalam Sarasamuscaya 261 – 262 ditegaskan bahwa Dan caranya berusaha memperoleh sesuatu, hendaklah berdasarkan dharma, dana yang diperoleh karena usaha, hendaklah dibagi tiga, sebagai sarana mencapai yang tiga itu, perhatikanlah itu baik-baik. Inilah hakekatnya maka dibagi tiga yang satu bagian sarana mencapai dharma, bagian yang kedua sarana untuk memenuhi kama, bagian yang ketiga sarana melakukan kegiatan usaha dalam bidang artha, itu agar berkembang kembali, demikian hakekatnya maka dibagi tiga, oleh orang yang ingin peroleh kebahagian.
Dalam Wrhaspati Tattwa sloka 26 dinyatakan tujuh macam perbuatan yang tergolong Dharma, yaitu:
1.       Sila – Tingkah laku yang baik
2.       Yajna – Pengorbanan
3.       Tapa – Pengendalian Diri
4.       Dana – Pemberian
5.       Prawrjya – Menambah ilmu pengetahuan suci
6.       Diksa – Penyucian diri / dwijati
7.       Yoga – Menghubungkan diri dengan Tuhan.
Berdasarkan pembagian Dharma tersebut, serta peruntukan dari penghasilan seseorang, makan dapat diperinci sebesar 33 1/3 % untuk Dharma dibagi 7 sehingga hasilnya bila dibulatkan menjadi 5 %. Dengan demikian setiap umat Hindu wajib menyisihkan 5% dari penghasilan bersihnya secara khusus.
Nah kewajiban 5% itu dibagi dua sehingga diperoleh 2,5% yang wajib dibayarkan untuk Dharma Dana. 2,5% lagi untuk memenuhi kewajiban-kewajiban lainnya seperti banjar, sosial, dan bantuan lainnya. Sehingga tidak berat, bukan?

Apakah Dharma Dana-nya harus 2,5%?
Tentu tidak, 2,5% itu adalah nilai minimal yang harus dibayarkan oleh Umat Hindu. Kalau lebih tentu akan lebih baik lagi.

Kapan harus dibayarkan?
Pembayaran Dharma Dana dilakukan sebelum hari raya Nyepi tahun baru caka. Hal ini untuk memudahkan perhitungan penghasilan dalam setahun karena hari raya Nyepi jatuh pada kisaran bulan kalender yang sama setiap tahunnya.
 

next