Kebahagiaan dan Materialism

Oleh Shri Danu D.P

Banyak orang percaya bahwa mereka dapat memecahkan semua persoalan hanya dengan uang, tetapi mereka tidak menyadari bahwa uang itu sendiri mempunyai persoalan yang menyertainya. Sesungguhnya hanya dengan uang saja, tidaklah dapat memecahkan semua persoalan.
Banyak orang tidak pernah mempelajari hal ini. Seluruh tenaga dan kehidupannya dikerahkan untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, tetapi ketika telah memilikinya mereka merasa bahwa itu semua belumlah memuaskan, dan mereka harus memiliki benda-benda lain yang lebih bagus lagi. Kenyataannya, semakain banyak pula hasrat keinginan untuk memiliki, sehingga mereka tidak akan dapat berbahagia dan puas.

Nasehat di bawah ini akan sangat menghibur kita manakala kehilangan sesuatu, yaitu: “Janganlah mengatakan ini milikmu dan itu milikku, tetapi katakan saja, ini datang padamu dan itu datang padaku, sehingga kita tidak akan menyesal kehilangan kemilau dari semua benda megah yang telah lenyap”.

Kekayaan bukanlah sesuatu yang berharga untuk dihiraukan dan ditimbun, melainkan harus kita pergunakan untuk kesejahteraan kita dan yang lainnya. “ Dhadani jivitam caiva, pararthe prajna utsrjet, sannimittam varam tyago, vinace niyate sati” (Sarasamuscaya. 175), yang artinya: “Maka tindakan orang yang tinggi pengetahuannya, tidak sayang merelakan kekayaannya, walaupun jiwanya sekalipun, jika untuk kesejahteraan umum; (karena) tahulah beliau akan maut pasti datang dan tidak ada sesuatu benda yang kekal, karena itu adalah lebih baik berkorban demi untuk kesejahteraan umum” (Pudja,1981: 96).

Bahkan jika kita pergunakan waktu kita hanya untuk melekat pada kekayaan tanpa memenuhi kewajiban kita terhadap Negara, keluarga, kawan-kawan dan agama kita, maka kita akan merasakan bahwa bilamana pada saatnya nanti kita harus meninggalkan dunia ini, kita akan tetap masih diliputi oleh kegelisahan, sehingga kita tidak akan mendapat keuntungan dari kekayaan yang telah kita miliki dan kumpulkan dengan susah payah. Mengharapkan kekayaan serta keuntungan melalui perjudian adalah sama halnya dengan mengharapkan awan sebagai tempat perlindungan terhadap sinar matahari. Sebaliknya, mengharapkan kemajuan dan kemakmuran serta kemujuran melalui kerajinan dalam bekerja adalah sama halnya dengan membangun rumah yang kokoh sebagai tempat berlindung dari matahari dan hujan.

“Harta kekayaan kita tidak dapat dibawa serta bila kita meninggal. Teman-teman beserta keluarga kita mengantar kita sampai ke pekuburan atau tempat kremasi, hanya perbuatan benar dan buruk yang telah kita lakukan selama hidup yangakan mengikuti kita berpindah kea lam baka”.

Banyak benda yang kita harapkan dapat memberikan kesenangan ternyata mengecewakan setelah kita memperolehnya. Misalnya tiga harapan dalam cerita dongeng. Kedengarannya menyenagkan bila memiliki banyak uang. Tetapi kalau kita sudah mendapatkannya, mungkin kita akan dapat merasakan bahwa uang tersebut akan menyebabkan kegelisahan bagi kita dalam memutuskan cara untuk menggunakannya, ataupun cara untuk melindunginya. Bahkan mungkin kita akan terjerumus untuk berbuat hal-hal yang bodoh.

Orang-orang kaya kadang-kadang curiga apakah teman-teman menghargainya karena diri pribadinya ataukah karena uangnya; dan hal ini merupakan salah satu bentuk kesedihan mental. Juga selalu ada rasa ketakutan akan kehilangan apa yang telah kita miliki, baik kehilangan materi ataupun orang yang dicintai. Jadi kalau kita jujur dan dapat melihat dengan jelas apa yang kita sebut “Kebahagiaan”, maka akan kita temukan bahwa hal itu hanya merupakan khayalan belaka, tak akan pernah dapat digenggam sepenuhnya, tak akan pernah sempurna ataupun terbaik, melainkan selalu ditemani oleh ketakutan akan kehilangan.

Kekayaan kita hanya dapat menghiasi rumah, bukan diri kita; hanya kebaikan kita sendirilah yang dapat menghiasi diri kita. Hanya kelakuan baik kitalah yang dapat menhiasi diri pribadi kita. Cara yang dipergunakan seseorang untuk memperoleh kebagagiaan haruslah cara yang benar. Tak ada artinya sama sekali bilamana menikmati kebahagiaan di atas kehancuran orang lain, ataupun penderitaan mahluk lain. “ Diberkatilah mereka yang mecari nafkah tanpa merugikan mahluk lain “.
Kebahagiaan merupakan wewangian yang tak dapat kita tuangkan kepada orang lain tanpa kita teteskan beberapa tetes pada diri kita sendiri. Kita mungkin tidak dapat merubah dunia sesuai dengan kehendak kita, tetapi pasti dapat merubah hati kita untuk mendapatkan kebahagiaan. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian, hanya dengan pengertian inilah yang akan memungkinkan kita mencapai kebahagiaan yang lebih besar daripada orang lain.

Jika kita ingin mendapatkan kebahagiaan marilah kita berhenti berpikir tentang rasa terima kasih ataupun kurang berterima kasih dari orang-orang yang pernah kita tolong, dan kembangkanlah kebahagiaan di dalam batin kita pada waktu memberikan dana. Rasa kurang berterima kasih merupakan kebiasaan seperti rumput liar. Tahu berterima kasih adalah seperti bunga mawar yang harus dipelihara, disirami air, dicintai dan dilindungi.

Om Tat Sat Harih Om

Leave a Comment

We would be glad to get your feedback. Take a moment to comment and tell us what you think.

3 − 2 =