Membayar Dharma Dana Adalah Yadnya

Hidup memang memiliki banyak kewajiban. Mulai dari kewajiban bidang ekonomi hingga sosial budaya. Kebutuhan yang mendasar tentunya adalah terpenuhinya kebutuhan pokok atau fisiologis yang lebih dikenal dengan sandang, pangan, dan papan. Terpenuhinya kebutuhan diri, rumah, dan makan. Baru kemudian kita dapat mengaktualisasikan kebutuhan lainnya sesuai dengan keinginan.

Kebutuhan tersebut sejalan dengan teorinya Abraham Maslow, seorang pelopor psikologi humanistik yang mengenalkan teori tentang hierarchy of needs atau hirarki kebutuhan. Menurut Maslow manusia akan termotivasi untuk memenuhi kebutuhannya yang memiliki tingkatan. Kebutuhan tersebut adalah Kebutuhan fisiologis/ dasar, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan status/ penghargaan, dan aktualisasi diri.

Pemenuhan tingkat kebutuhan itu hendaknya didukung dan akan dipengaruhi faktor lainnya. Motivasi dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu tentu harus dilandasi dharma atau pun spritualitas. Misalnya dalam motivasi pemenuhan kebutuhan ekonomi atau artha hendaknya harus diikuti dengan landasan bahwa perbuatan itu memang atas dasar dharma. Begitu juga hasilnya agar dapat digunakan untuk kepentingan dharma. Begitu juga dalam pemenuhan tingkat kebutuhan yang lebih tinggi hendaknya juga untuk menjalankan dharma itu sendiri.
Dalam Sarasamuscaya 261 – 262 ditegaskan bahwa Dan caranya berusaha memperoleh sesuatu, hendaklah berdasarkan dharma, dana yang diperoleh karena usaha, hendaklah dibagi tiga, sebagai sarana mencapai yang tiga itu, perhatikanlah itu baik-baik. Inilah hakekatnya maka dibagi tiga yang satu bagian sarana mencapai dharma, bagian yang kedua sarana untuk memenuhi kama, bagian yang ketiga sarana melakukan kegiatan usaha dalam bidang artha, itu agar berkembang kembali, demikian hakekatnya maka dibagi tiga, oleh orang yang ingin peroleh kebahagian.
Esensi dari sloka tersebut juga ditegaskan Kombespol. Drs. Ketut Untung Yoga, S.H.,M.M., Kepala Humas Polri Metro Jaya. Menurutnya perlu adanya terobosan kepada umat agar tumbuh kesadaran untuk memenuhi kewajiban berdana punia sebagai wujud dari yadnya. ”BDDN sebagai badan resmi Parisada dapat melakukan terobosan-terobosan melalui website-website yang dimiliki umat Hindu sebagai media sosialisasi,” tulis pria kelahiran 21 April 1960 ini.
Lebih jauh ia menyampaikan bahwa umat Hindu terikat oleh panca yadnya yang secara iklas wajib diamalkan dalam perjalanan hidup ini. Kalau ini dapat dilakukan dengan baik tidak ada lagi beban hidup yang berat. ”Kita mampu mewujudkan solusinya dalam kebersamaan dan kekeluargaan,” tegasnya.

2 Comments

  1. Sutama
    15 November 2013 at 7:33 AM

    Manawa Sewa, Madawa Sewa. Sesungguhnya pelayanan kepada sesama merupakan pelayanan kepada para Dewa. Bravo BDDN.

    Reply »
  2. Miyarto
    17 March 2014 at 3:20 PM

    BDDN ini saya apresiasi sesuatu terobosan baru dari kaca mata Hindu ditengah kehidupan sosial saudara-saudara kita yang dominan, maka ini sebagai pembelajaran bagi umat, semoga visi dan misi BDDN akan senantiasa berpegang pada Dharma sampai pada usia dewasa bahkan jayanya nanti. sebagai wujud kepedulian umat Hindu, semoga blok ini segera dapat respon yang lebih luas diumat khususnya dan dimasyarakat pada umumnya. Saya masih banyak belajar, belajar dan belajar......terima kasih.

    Reply »

Leave a Comment

We would be glad to get your feedback. Take a moment to comment and tell us what you think.

17 + fifteen =