Ora et Labora

Oleh: Ni Made Wenes Widiyani
(Penerima Beasiswa Dharma Dana Parisada Angkatan I)

Kalimat apakah yang mungkin bermakna bagi seorang mahasiswa Hindu? Berdoalah dan bekerja, atau bagi mahasiswa Hindu seperti kita lebih tepatnya sembahyanglah dan belajar. Pernahkah terjadi dalam kehidupan ini disaat kita telah berusaha semaksimal mungkin, tetapi hasilnya kurang memuaskan? Atau sebaliknya, disaat kita kurang persiapan menghadapi sesuatu, secara tidak terduga hasilnya membawa kepuasan?
Ora et labora berasal dari bahasa latin, yang bermakna jangan hanya meminta tetapi kita juga harus berusaha meraihnya. “Sembahyang bukanlah meminta, tapi sebuah proses penyatuan diri dengan Tuhan melalui bhakti pikiran terpusat. Sembahyang adalah kedekatan dengan Tuhan. Sembahyang adalah menyelaraskan pikiran dengan Tuhan. Sembahyang adalah memusatkan pikiran pada Tuhan dan melakukan meditasi pada-Nya. Sembahyang adalah penyerahan diri kepada Tuhan secara penuh, serta meleburkan pikiran dan ego dalam diam, dalam Tuhan. Sembahyang menggambarkan satu keadaan mistik ketika kesadaran individu terserap dalam Tuhan. Ia adalah pengangkatan jiwa kepada Tuhan, sebuah tindakan cinta dan pemujaan kepada-Nya. Ia adalah pemujaan dan pengagungan Tuhan. Ia adalah ucapan terima kasih kepada Tuhan untuk semua anugrah-Nya.” (Shivananda:1963)
Seseorang, khususnya mahasiswa yang rajin Tri Sandhya, mebhakti setiap hari dalam hidupnya tidak dijamin 100% akan sukses dan berhasil sesuai dengan yang diharapkannya tanpa berusaha atau belajar. Dengan sembahyang artinya kita berserah kepada Sang Hyang Widhi atas apa yang direncanakan-Nya setelah kita berusaha. Apapun hasilnya, baik maupun buruk tidak menjadi masalah karena esensi yang kita ingat adalah “kita telah berusaha”, berusaha dengan sungguh-sungguh yang didasarkan pada Jnana (ilmu pengetahuan yang disertai perencanaan yang baik, bukan kerja atau usaha yang dilakukan dengan semangat mengebu-gebu atas dasar dorongan emosional sementara).
Manajemen waktu bagi seorang mahasiswa adalah kunci utama dalam Jnana. Bagaimana ia memanfaatkan 24 jam waktu yang dimiliki dalam sehari untuk dialokasikan pada semua aktivitas/ kesibukan yang ia jalani. Seaktif apapun seseorang dalam kegiatannya, hendaknya ia dapat mengukur kemampuan dan potensi diri dalam hal tersebut. Oleh karena itu, tetapkan skala prioritas pada semua kewajiban yang ada, jangan melampaui batas kemampuan yang dimiliki atau di kemudian hari harus mengorbankan sesuatu atas konsekuensi tidak ter-handlenya seluruh kewajiban yang harus diselesaikan.
Jangan pernah berpikir bahwa kita bisa berhasil tanpa diiringi doa pada Sang Hyang Widhi, meskipun kita telah berusaha dan belajar giat. Keberhasilan seperti itu bersifat semu dan sementara, karena fondasi kita dalam menghadapi masalah adalah emosi dunia. Tanpa diiringi doa, keberhasilan seperti itu akan membuat kita terlena disaat kita di atas dan kehilangan kepercayaan disaat kita gagal.
Kita memanjatkan doa untuk mendapatkan pikiran yang tenang dan terang, sehingga di saat itulah kita dapat bekerja (belajar), kita dibukakan akal budhi pikirannya dalam menghadapi semua permasalahan hidup ini. Doa akan meningkatkan level spiritualitas kita, doa juga akan meningkatkan kecerdasan intelektualitas, serta mampu mengendalikan kepekaan emosional dalam melakukan swadharma kehidupan ini.
Jadi, kalimat Ora et Labora meskipun berupa bahasa Latin dan merupakan suatu kalimat kepercayaan bangsa Yunani yang menganut ajaran Nasrani, namun inti dari makna kalimat populer tersebutlah yang hendaknya kita pahami. Hal serupa juga terdapat dalam ajaran Hindu, keberhasilan tidak datang dengan sendirinya tanpa disertai usaha dan doa. Oleh karena itu berusahalah, bekerjalah, belajarlah secara maksimal jika ingin berhasil dan berprestasi, tetapi jangan lupa berdoa dalam setiap tindakan, apapun hasilnya serahkan kepada Sang Hyang Widhi.

Leave a Comment

We would be glad to get your feedback. Take a moment to comment and tell us what you think.

eighteen + 11 =