Penganut Hindu Perlu Berbisnis

Oleh: I Wayan Miasa
Selama ini setiap orang membicarakan tentang berbisnis, pikiran kita sering tertuju pada suatu aktivitas usaha yang memerlukan banyak modal. Selain itu kita juga sering berpikir bahwa berbisnis itu adalah kegiatan orang-orang materialistis dan berbisnis dianggap tidak relevan dengan kegiatan keagamaan. Kita sering salah memahami makna kata ‘bisnis’ dalam kehidupan kita dan sedihnya lagi setiap kita mendengar kata bisnis kita sering berpikir bahwa kegiatan tersebut hanyalah milik para pengusaha. Makna kata bisnis sesungguhnya adalah suatu kegiatan untuk menyibukkan diri untuk mempertahankan kehidupan kita. Untuk mendukung kelangsungan kehidupan tersebut dilakukanlah berbagai kegiatan yang sering berhubungan dengan aktivitas jual beli atau berdagang atau kegiatan-kegiatan produktif lainnya dan berbisnis dalam agama Hindu juga sangat dianjurkan dan bukan ditabukan. Karena agama Hindu menginginkan penganutnya bisa mencapai suatu kehidupan yang sejahtera, damai serta suka tanpa wali duka.

Jika kita hubungkan kegiatan berbisnis tersebut dengan ajaran catur ashrama dan catur warna, maka berbisnis dalam kehidupan kita tersebut merupakan implementasi dari ajaran catur ashrama dan catur warna. Artinya setelah seseorang menyelesaikan tahap kehidupan Brahmacari maka seseorang akan dihadapkan pada tahap kehidupan berikutnya, yaitu tahap kehidupan grehasta. Pada tahap kehidupan sebagai grehasta-lah semua teori yang telah dipelajari diuji dalam dunia nyata bagaimana seseorang tersebut bisa menerapkannya untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan keluarganya. Begitujuga kegiatan berbisnis para grehasta juga perlu disesuaikan dengan desa, kala, patra.

Hal tersebut di atas juga perlu dipahami oleh warga Hindu di Bali bahwa dalam kegiatan mempertahankan kehidupannya mereka perlu merubah cara pandangnya. Selama ini kebanyakan dari kita berpikir bahwa satu-satunya jalan untuk mempertahankan kehidupan kita hanyalah lewat jalur agraris. Sehingga kita hanya berpikir jika kita tidak merniliki lahan pertanian maka kita beranggapan bahwa semuanya akan pralaya. Oleh karena cara pandang seperti itulah kita akhirnya selalu beranggapan bahwa sumber kehidupan tersebut uma dari hidup bertani.

Dari cara pandang tersebut timbullah suatu pendapat bahwa warga Hindu harus selalu merniliki lahan pertanian dan rela bertransrmigrasi untuk mendapatkan sebidang tanah tersebut. Padahal jika mereka menyadari bahwa di Bali ada banyak kegiatan bisnis yang mereka bisa lakukan apalagi hal tersebut didukung oleh dunia pariwisatanya. Seandainya saja warga kita eling dan ngeh dengan keadaan yang ada di pulau ini maka warga kita akan tidak seperti ayam mati di lumbung padi. Namun sayangnya naluri bisnis kita tidak setajam kaum pendatang, dimana mereka pandai memanfaatkan setiap celah yang ada. Hal ini diperparah lagi oleh pola hidup kita yang priyayi yang suka memilih pekerjaan. Selain faktor-faktor tersebut tadi tumpulnya jiwa bisnis warga Hindu karena mereka juga sering diracuni pandangan yang menganggap bahwa dalam kehidupan keagamaan kita seharusnya hidup sederhana dan melepaskan ikatan kehidupan material karena ini semua adalah maya.

Berspiritual boleh tapi kita juga perlu paham bahwa di dunia ini kita perlu menjaga kehidupan kita untuk menunjang bhakti kita pada tuhan. Sehingga kita perlu juga mengembangkan jiwa Wesia sebagai landasan jiwa berbisnis dan tidak saja mengembangkan jiwa Brahmana. Hal ini perlu kita tekankan berkali-kali agar kita bisa hidup seimbang. Kita perlu cerdas dalam kehidupan ini. Walaupun orang-orang spiritual itu sering mengkritisi kehidupan materialis namun sesungguhnya para spiritualis tersebut juga berbisnis dengan kedok spiritualitasnya, misalnya dengan memanfaatkan jubah spiritualnya. Hal ini kita bisa saksikan pada kehidupan penekun spiritual.

Oleh karena itu maka sebagai penganut Hindu janganlah takut mengembangkan jiwa bisnis. Umat Hindu perlu merubah pola pikir yaitu seharusnya menumbuhkan jiwa bisnis kita dalam kehidupan sosio-religius kita dalam mewujudkan kehidupan moksartam jagadhita. Bukan sebaliknya dimana kita mengecam kegiatan bisnis seseorang namun mengembangkan sikap mengemis berkedok spiritual.

Bali sebagai tujuan kunjungan wisata dimana pulau kita ini memberikan warganya banyak peluang usaha maka kita seharusnya memanfaatkan peluang tersebut. Begitu juga kita perlu terus meningkatkan SDM warga kita sehingga mereka bisa bersaing di semua bidang pekerjaan ataupun bisnis lainnya. Agar kita tidak seperti pepatah leluhur kita ‘cara siap bali’ . Bertengkar antar sesama saat dikasi makanan.

Dalam mengembangkan dunia bisnis, warga kita perlu menerapkan petuah-petuah bijak leluhur kita seperti sikap paras paros, saling asah asih asuh. Sehingga suatu saat kita bisa hidup seperti warga pendatang dimana kita bisa saling dukung antar sesama.

Agama Hindu mengajarkan penganutnya untuk selalu bekerja atau berbisnis guna mewujudkan kehidupan beragama yang penuh kesejahteraan dan tidak menghendaki penganutnya hidup menjadi pengemis dengan topeng agama. Begitu juga agama kita tidak melarang pengikutnya untuk hidup kaya asalkan kekayaannya didapat dengan cara yang benar. Semoga warga kita semakin eling di masa datang dalam menghadapi tantangan jaman. TAT ASTU.

Leave a Comment

We would be glad to get your feedback. Take a moment to comment and tell us what you think.

2 × 1 =