Pentingnya Arti Motivasi dalam Perbuatan

Oleh: Anatta Gotama

 

Dalam setiap perbuatan ada motivasi yang melatar-belakangi, sebagai titik-tolak kenapa perbuatan tersebut dilakukan. Secara kasat-indria, ia tak tampak, namun hati-nurani mengetahuinya. Kita bisa saja menyembunyikannya melalui ekspresi wajah dan kata-kata yang diatur sedemikian rupa, namun semua itu hanya perangkat yang menunjang tercapainya motivasi. Secara terbatas ia juga dapat disebut ‘kehendak’, karena sangat mirip, namun sebetulnya tidak sama.
Umumnya ada 3 motivasi didalam berbuat, yakni:
1. bagi diri sendiri,
2. bagi orang lain, dan
3. bagi perbuatan itu sendiri.
Berbuat bagi diri sendiri adalah motivasi umum yang paling banyak dilakukan oleh seseorang dalam berbuat. Si pelaku mengharapkan kalau perbuatannya berbuah seperti apa yang ia inginkan; bila tidak maka iapun kecewa, bersedih atau berduka. Demikian pula sebaliknya, bila berhasil, mendorongnya menjadi congkak atau sombong.
Harapan dan keinginan yang melatar-belakanginya bisa beragam bentuk dan variasinya, dari kasar (materialistis) maupun halus (non-materialistis) . Yang kasar, umumnya terlihat jelas; namun yang halus agak kurang jelas, tersamar, sehingga seringkali mengecoh banyak orang. Seseorang yang berbuat berlandaskan motif ini, ia dengan mudah terombang-ambing di antara 2 kutub ekstrim —suka-duka, sukses gagal dan lain sebagainya. Perbuatan ini merupakan ekspresi dari egosentrisitas.
Berbuat bagi orang lain; tampak secara kasat-indria. Ini bisa mendatangkan predikat mulia bagi si pelaku. Membiasakan berbuat berdasarkan motif ini, mengikis ‘egoisme’ secara pasti. Di dalamnya tercermin keluhuran budi, kerelaan berkorban dan berbagai sifat-sifat positif-konstruktif lainnya. Ini memang tampak jelas. Keberhasilannya akan mendatangkan kebanggaan, dan kegagalannyapun tidak menyebabkan si pelaku terlalu kecewa atau sedih berkepanjangan.
Hasil dari perbuatan seperti ini, lebih banyak menguntungkan si pelaku secara moral. Walaupun umumnya perbuatan sepertinya berdampak positif bagi pelaku, namun ada pula dampak negatifnya; ia membangkitkan ‘kegemaran akan pujian dan sanjungan’. Pujian atau sanjungan ini, amat memabukkan; hanya mereka yang telah mencapai tingkat kemurnian tertentu saja mampu menghindarkan diri dari ‘kemabukan’ jenis ini.
Inilah yang paling berbahaya bagi para pendamba ‘kemurnian batin’. Kemabukan serupa ini pernah mengacaukan banyak pemimpin bangsa. Berhati-hatilah terhadap motivasi ini. Disini masih ada ‘ego’ kendati sudah halus, bermotif non-material.
Bagi perbuatan itu sendiri; ini boleh jadi terdengar agak aneh, atau bahkan membingungkan. Amat jarang, bahkan mungkin kita tidak pernah berbuat berlandaskan motivasi bagi perbuatan itu sendiri. Yang berbuat dengan motif ini, tidak akan dikecewakan oleh hasilnya, dan tak akan dimabukkan olehnya.
Yang melakukannya tahu kalau suatu perbuatan bermanfaat bagi orang lain, dan juga dirinya —walaupun itu bukan tujuannya. Ia hanya mengerjakannya sebagai suatu kewajiban luhur, yang membahagiakannya sebelum, saat dan setelah melangsungkannya.
Yang seperti inilah yang dibabarkan —secara panjang lebar— oleh Sri Krishna kepada Arjuna di dalam Bhagawadgita. Melepaskan perbuatan dari segala hasilnya, layak diperjuangkan oleh yang mendambakan ‘kebebasan’. Inilah yang disebut Karma-Yoga. Seorang Karma-Yogi, mengusahakan kelepasannya melalui perbuatan tanpa pamerih, tanpa motif bagi dirinya sendiri selain bagi kebajikan itu sendiri. Dorongan yang menggerakkannya untuk berbuat semata-mata adalah Dharma; betapapun hasilnya, ia serahkan sepenuhnya pada Dharma, hukum semesta.
Untuk meyakinkan Arjuna, Krishna bahkan memandang perlu   mempertunjukkan ‘tubuh-semesta’ beliau. Konyolnya, penggambaran seperti itu, bagi kebanyakan dari kita, malah hanya sekedar mengundang kekaguman, dan mengesampingkan makna. Kita amat cepat dan mudah terkagum-kagum pada berbagai hal, tanpa mampu menarik hikmah daripadanya. Sikap ini memang mempertebal keimanan dan bhakti; namun ia tidak menghadirkan pengetahuan- sejati ( jñana), yang sebetulnya juga bisa dipetik daripadanya.
Sikap seperti itu bisa mengundang dogmatisme. Manakala dogmatisme telah merasuki seseorang, ia akan menggiringnya menuju fanatisme. Kaum fanatik ini berpotensi besar untuk menyakiti makhluk lain, melakukan   himsa-karma, dalam berbagai modus serta bertindak destruktif.
Kecenderungan mendewa-dewakan seseorang atau sesuatu misalnya, bersifat mendasar bagi manusia. Animisme dan dinamisme merupakan faham-faham purba yang mewakili dan sebagai contoh dari kecenderungan manusia ini. Kita bisa saja berdalih macam-macam terhadap pihak luar untuk membela faham kita, namun bagi yang bisa melihat dan jujur, semua itu akan tampak dengan jelas melalui sikap, ucapan dan pola pikir kita.
Di dalam berbuat, motivasi ternyata amat penting; mereka yang berbuat berdasarkan motivasi tipe 3 tadi, bebas dari hasil perbuatannya. Secara batiniah ia tak terikat oleh perbuatan maupun hasilnya. Disinilah beda antara ‘motivasi’ dengan ‘kehendak’. Dalam kehendak masih ada keterikatan akan hasil perbuatan, sedangkan motivasi punya lingkup yang lebih luas dibanding sekedar kehendak.
Manakala kita menghendaki sesuatu, namun tak terpenuhi, kita merasa kecewa. Kekecewaan timbul karena dalam kehendak ada harapan untuk sukses. Padahal faktanya, sukses maupun gagal punya peluang yang sama besarnya. Tetapi bilamana perbuatan diabdikan untuk Dharma, tak akan ada kehendak atau keterikatan atas hasilnya. Sebagai hukum semesta, Dharma akan mengatur sebaik-baiknya.
Para bhakta memuja Tuhan melalui dharma-bhakti- nya, sedangkan para karmen melalui dharma-kriya- nya. Bila kaum jñani melalui dharma-jñana- nya maka para raja-yogi melalui dharma-siddhinya.
Demikianlah para yogi menapaki jalan ( marga). Mengimplementasikan ajaran yang dianut merupakan kewajiban dari setiap penganut; jelas bukan kewajiban sekelompok orang tertentu saja, kaum brahmana saja misalnya. Sayangnya tanpa disadari, kita acapkali kedapatan berpandangan keliru seperti itu. Kita menganggap kalau itu hanyalah tugas para brahmana atau para sulinggih saja. Dan —secara keliru— berharap bisa numpang di kendaraannya menuju sorga.
Setiap orang hanya menikmati hasil dari perbuatannya sendiri; bukan hasil dari perbuatan brahmana atau sulinggih manapun; sekalipun mereka adalah orangtua atau saudara atau saudari kita.
Pandangan keliru muncul dari ‘kebodohan’ ( awidya) kita sendiri; dan kebodohan timbul dari keengganan (tamasika) kita. Renungkanlah dengan tenang dan jernih, bukankah demikian adanya? Secara fisik dan kasat-indria, mungkin kita dapat mengandalkan makhluk lain bagi kebaikan kita. Tetapi secara batiniah, kita mesti mandiri tidak mengandalkan siapapun.
Tak ada satu makhluk pun di jagat-raya yang dapat mensucikan batin kita, kecuali kita sendiri. Ia bukan anugrah, melainkan akibat langsung dari suatu perjuangan, evolusi batin. Beranggapan bahwa ada makhluk luhur yang akan menganugrahi kesucian batin, adalah ciri khas dari sifat tamasika dan awidya. Ajaran menegaskan bahwa awidya-lah penyebab utama dari Samsara.
Keengganan berdampak amat buruk bagi batin; ia menyeret pada kelahiran di alam rendah, yang merupakan lingkaran-setan sehingga akan amat sulit keluar darinya. Berhati-hatilah terhadap variasi halusnya dengan senantiasa mewaspadainya. Apayang mesti diwaspadai?
Para bijaksana, sejak ribuan tahun yang lampau, telah mengingatkan kita akan, bermacam-macam musuh ( ripu), kegelapan (timira) dan kekotoran batin (kilesa) ditambah lagi dengan halang-rintang ( niwarena) batiniah yang seringkali mengecoh. Bagi margi atau pejalan spiritual yang baik, inilah yang diwaspadainya. Ia akan menyiapkan batinnya sedemikian rupa, agar mampu menggempur habis musuh-musuhnya, memperjernih batinnya dari kegelapan, membersihkan berbagai kekotoran dan menyingkirkan segala rintangan yang menghadang. Banyak yang mesti dilakukan dalam menapaki jalan. Yang jelas, semua itu mesti diperjuangkan secara mandiri, melalui apa yang telah diajarkan oleh para bijaksana dan suciwan.
Semoga tulisan ini bermanfaat sebesar-besarnya bagi pembaca budiman. Semoga kebijaksanaan melingkupi batin semua insan, semoga semua anugrah suci dilimpahkan kepada kita semua.

Leave a Comment

We would be glad to get your feedback. Take a moment to comment and tell us what you think.

11 − seven =